Pernikahan

Ketika dua hati menyatu

Saat dua hati berjanjiTuk arungi hidup di jalan-NyaAllah kan berkahi merekaKala dalam doa kala dalam asa

Menjadilah mentari bening pagiTerangi bumi terangi hatiMenjadilah keheningan malam

Kala berjuta insan larut dalam doa

Selamat datang kawan

Di duniamu yang baruKudoakan semoga bahagia

When two people get marryTo take the life together on the wayAllah shall give them one more blessWhen life in love and tryWhen life in love and pray

Just be the sunshine in the morning dayGive it shine to the world let everyone to seeJust be the quiteness in the nightWhen many people cry when many people pray

Welcome to the new world my friendsYou both have to face all in loveAll I could do just prayAnd I do I pray

Seismic - Kedua Hati Menyatu

GeleMbunG IkaN BelO 2011-08-16 06:37:00

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S Al-Furqaan [25] :74)

A..min..Ya Rabb..=')

Indahnya pernikahan dalam islam

Menurut Muhammad Fauzil Adhim, pakar pernikahan dan parenting, hubungan suami dan istri dalam islam bukan berlandasan kepada kewajiban (misalnya, bakti istri pada suami). Tapi apapun yang dilakukan suami atau istri terhadap pasangannya adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT. Dengan kata lain, intinya adalah hubungan yang lebih tulus semata mata karena Allah dan bukan karena sesuatu yang bisa dibeli dengan uang (tidak bersifat transaksional). Misalnya, kalau kita bisa melakukan yang lebih baik kepada pasangan kita, kenapa tidak. Karena orientasinya adalah mencari ridho Allah atau mengharapkan pahala dari Allah. Dan bukan mengharapkan balasan yang lebih baik dari pasangan kita. Jika kemudian ia ternyata membalas kebaikan kita dengan yang lebih baik lagi, maka itu merupakan sunnatullah. Menurut Fauzil (mantan dosen psikologi UII jogyakarta), yang membuat pernikahan bahagia adalah karena orientasi pernikahan yang kuat. Semakin kuat orientasinya, semakin besar peluang pernikahan itu bertahan lama dan bahagia. Sebaliknya, pernikahan yang dilandasi oleh harapan harapan akan menimbulkan masalah dan mendatangkan kekecewaan. Misalnya seorang laki laki yang menikahi perempuam berjilbab yang juga seorang muslim aktivis, kata Fauzil. Ketika ia hendak shalat tahajjud, ternyata istrinya sulit dibangunkan. Kalau pernikahannya dilandasi harapan, maka ia akan kecewa karena tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Namun kalau pernikahannya berangkat dari orientasi ketaatan kepada Allah, More >

Surat Untuk Calon Menantuku

Bismillahirrahmanirrahim...

Sore - sore, lagi baca artikel - artikel islam, kebetulan menemukan sebuah artikel yang menggambarkan perasaan seorang ibu yang memiliki seorang anak laki - laki, yang kini telah menginjak dewasa,dan siap menjadi imam. Anak laki - laki yang dahulu masih kecil dan manja sekarang sudah begitu gagah, bahkan siap memiliki amanah yang baru untuk menjadi seorang imam untuk keluarga. Perasaan senang,bangga, tentunya meliputi perasaan seorang ibu karena melihat anaknya akan menyempurnakan separuh agamany, tetapi pula tak sedikit perasaan takut kehilangan yang menyelimuti hatinya. Perasaan takut kasih sayang anaknya, akan sepenuhnya dia berikan kepada istrinya.

Buat sahabat - sahabat, yang sudah menjadi menantu, atau kelak yang akan menjadi menantu , kita simak sama - sama yuk.Artikel ini saya dapat, dan sudah izin untuk di share kembali.Mudah2an dengan membaca ini kita bisa lebih memahami apa yang dirasakan oleh mertua kita, sehingga kita akan menyayanginya seperti ibu kita sendiri...^_^

?•*¨*•.¸¸?¸¸.•*¨*•????????•*¨•*¨*•???????????

Hari ini ku coba u menempatx diriku di posisi seorang mertua.. Menyelami rasa yg d miliki seorang ibu dr putra yg sgt di cintainya..

Yuuk.. Kita menyimak hatinya..

----------***----------

Duhai gadis, yg baru ku kenal.

Tahukah kau, dia putraku, lahir dr rahim suciku, kupertaruhkan hidupku u memilikinya, anak kesayanganku yg sepanjang hidupx ku besarkan dgn segenap rasa cintaku..

Tangan renta ini More >

Kupinang Engkau Dengan Al-Qur’an

Pada jaman Rasulullah S.a.w proses pernikahan yang terjadi terkesan begitu mudah dan sederhana tanpa harus menunggu kemapanan dunia terlebih dahulu. Salah satu contohnya adalah ketika suatu saat Rasulullah S.a.w sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, datanglah seorang wanita menghadap beliau lalu berkata. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kedatangan saya ini tidak lain adalah untuk menghibahkan diriku kepadamu”.

Maka Rasulullah pun memperhatikan wanita itu dengan seksama. Kemudian beliau hanya mengangguk-anggukkan kepala saja tanpa berkomentar. Melihat hal itu wanita tersebut paham bahwa Rasulullah belum menghendaki dirinya. Wanita itu lalu duduk. Tak berapa lama kemudian bangkitlah salah seorang sahabat Rasulullah dan berkata :

” Ya Rasulullah, jika engkau tak menginginkannya maka nikahkanlah ia denganku saja.

Rasulullah bertanya kepada lelaki tersebut, “Apakah engkau mempunyai sesuatu (untuk mahar)?”

Ia menjawab, “Demi Allah saya tidak memiliki apa-apa ya Rasulullah.”

“Pergi dan temuilah keluargamu, barangkali kamu mendapatkan sesuatu disana.” Pinta beliau. Lelaki itupun mengikuti saran Rasulullah S.a.w.

Tak berapa lama kemudian ia kembali lagi lalu berkata,

“Demi Allah saya tidak mendapati sesuatupun disana”. Rasulullah S.a.w bersabda :”Lihatlah kembali, walau hanya sekedar cincin besi.”

Iapun pulang, lalu kembali menemui Rasulullah, seraya berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, saya tidak mendapati apa-apa disana walau sekedar cincin besi sekalipun. Tetapi ini saya mempunyai kain sarung.”Lelaki itu bermaksud membagi kain sarung yang More >